Minggu, 19 Juni 2011

kisah Nabi musa

Zabil@¤¤Nabi Musa A.S. adalah seorang bayi
yang dilahirkan dikalangan Bani Isra’il yang pada ketika itu dikuasai oleh
Raja Fir’aun yang bersikap kejam dan zalim. Nabi Musa bin Imron bin Qahat
bin Lawi bin Ya’qub adalah beribukan Yukabad.Setelah meningkat dewasa
Nabi Musa telah beristerikan dengan
puteri Nabi Syu’aib yaitu Shafura.Dalam perjalanan hidup Nabi
Musa untuk menegakkan Islam dalam
penyebaran risalah yang telah
diutuskan oleh Allah kepadanya ia
telah diketemukan beberapa orang
nabi diantaranya ialah bapa mertuanya Nabi Syu’aib, Nabi Harun dan Nabi Khidhir. Di sini juga
diceritakan tentang perlibatan
beberapa orang nabi yang lain di
antaranya Nabi Somu’il serta Nabi Daud Catatan :~
Para ahli tafsir berselisih pendapat
tentang Syu’aib, mentua Nabi Musa. Sebahagia besar berpendapat bahwa
ia adalah Nabi Syu’aib A.S. yang diutuskan sebagai rasul kepada kaum
Madyan, sedang yang lain
berpendapat bahwa ia adalah orang
lain yaitu yang dianggap adalah satu
kebetulan namanya Syu’aib juga. Wallahu A’lam bisshawab Kelahiran Musa Dan Pengasuhnya Raja Fir’aun yang memerintah Mesir sekitar kelahirannya Nabi Musa,
adalah seorang raja yang zalim, kejam
dan tidak berperikemanusiaan. Ia
memerintah negaranya dengan
kekerasan, penindasan dan
melakukan sesuatu dengan sewenang-wenangnya. Rakyatnya
hidup dalam ketakutan dan rasa tidak
aman tentang jiwa dan harta benda
mereka, terutama Bani Isra’il yang menjadi hamba kekejaman, kezaliman
dan bertindak sewenang-wenangnya
dari raja dan orang-orangnya. Mereka
merasa tidak tenteram dan selalu
dalam keadaan gelisah, walau pun
berada dalam rumah mereka sendiri. Mereka tidak berani mengangkat
kepala bila berhadapan dengan
seorang hamba raja dan berdebar hati
mereka karena ketakutan bila
kedengaran suara pegawai-pegawai
kerajaan lalu di sekitar rumah mrk, apalagi bunyi kasut mrk sudah
terdengar di depan pintu. Raja Fir’aun yang sedang mabuk kuasa yang tidak terbatas itu,
bergelimpangan dalam kenikmatan
dan kesenangan duniawi yang tiada
taranya, bahkan mengumumkan
dirinya sebagai tuhan yang harus
disembah oleh rakyatnya. Pd suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan
oleh seorang ahli nujum kerajaan
yang dengan tiba-tiba dtg
menghadap raja dan memberitahu
bahwa menurut firasatnya falaknya,
seorang bayi lelaki akan dilahirkan dari kalangan Bani Isra’il yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan
bahkan akan membinasakannya. Raja Fir’aun segera mengeluarkan perintah agar semua bayi lelaki yang
dilahirkan di dalam lingkungan
kerajaan Mesir dibunuh dan agar
diadakan pengusutan yang teliti
sehingga tiada seorang pun dari bayi
lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu. Maka dilaksanakanlah
perintah raja oleh para pengawal dan
tenteranya. Setiap rumah dimasuki
dan diselidiki dan setiap perempuan
hamil menjadi perhatian mereka pada
saat melahirkan bayinya. Raja Fir’aun menjadi tenang kembali dan merasa aman tentang kekebalan
kerajaannya setelah mendengar para
anggota kerajaannya, bahwa wilayah
kerajaannya telah menjadi bersih dan
tidak seorang pun dari bayi laki-laki
yang masih hidup. Ia tidak mengetahui bahwa kehendak Allah
tidak dpt dibendung dan bahwa
takdirnya bila sudah difirman “Kun” pasti akan wujud dan menjadi
kenyataan “Fayakun”. Tidak sesuatu kekuasaan bagaimana pun besarnya
dan kekuatan bagaimana hebatnya
dapat menghalangi atau
mengagalkannya. Raja Fir’aun sesekali tidak terlintas dalam fikirannya yang kejam dan
zalim itu bahwa kerajaannya yang
megah, menurut apa yang telah
tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan
ditumbangkan oleh seorang bayi
yang justeru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri akan diwarisi
kelak oleh umat Bani Isra’il yang dimusuhi, dihina, ditindas dan disekat
kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah
laksana bunga mawar yang tumbuh
di antara duri-duri yang tajam atau
laksana fajar yang timbul menyingsing
dari tengah kegelapan yang mencekam. Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin
Lawi bin Ya’qub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut
rumahnya menanti dtgnya seorang
bidan yang akan memberi
pertolongan kepadanya melahirkan
bayi dari dalam kandungannya itu.
Bidan dtg dan lahirlah bayi yang telah dikandungnya selama sembilan bulan
dalam keadaan selamat, segar dan
sihat afiat. Dengan lahirnya bayi itu,
maka hilanglah rasa sakit yang luar
biasa dirasai oleh setiap perempuan
yang melahirkan namun setelah diketahui oleh Yukabad bahwa
bayinya adalah lelaki maka ia merasa
takut kembali. Ia merasa sedih dan
khuatir bahwa bayinya yang sgt
disayangi itu akan dibunuh oleh
orang-orang Fir’aun. Ia mengharapkan agar bidan itu
merahsiakan kelahiran bayi itu dari
sesiapa pun. Bidan yang merasa
simpati terhadap bayi yang lucu dan
bagus itu serta merasa betapa sedih
hati seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru dilahirkan
memberi kesanggupan dan berjanji
akan merahsiakan kelahiran bayi itu. Setelah bayi mencapai tiga bulan,
Yukabad tidak merasa tenang dan
selalu berada dalam keadaan cemas
dan khuatir terhadap keselamatan
bayinya. Allah memberi ilham
kepadanya agar menyembunyikan bayinya di dalam sebuah peti yang
tertutup rapat, kemudian membiarkan
peti yang berisi bayinya itu terapung
di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh
bersedih dan cemas ke atas
keselamatan bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan bayi
itu kepadanya bahkan akan
mengutuskannya sebagai salah
seorang rasul. Dengan bertawakkal kepada Allah
dan kepercayaan penuh terhadap
jaminan Illahi, mak dilepaskannya peti
bayi oleh Yukabad, setelah ditutup
rapat dan dicat dengan warna hitam,
terapung dipermukaan air sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh
ibunya untuk mengawasi dan
mengikuti peti rahsia itu agar
diketahui di mana ia berlabuh dan
ditangan siapa akan jatuh peti yang
mengandungi erti yang sgt besar bagi perjalanan sejarah umat manusia.
Alangkah cemasnya hati kakak Musa,
ketika melihat dari jauh bahwa peti
yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri
raja yang kebetulan berada di tepi
sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya dan dibawanya
masuk ke dalam istana dan
diserahkan kepada ibunya, isteri
Fir’aun. Yukabad yang segera diberitahu oleh anak perempuannya
tentang nasib peti itu, menjadi
kosonglah hatinya karena sedih dan
cepat serta hampir saja membuka
rahsia peti itu, andai kata Allah tidak
meneguhkan hatinya dan menguatkan hanya kepada jaminan
Allah yang telah dinerikan kepadanya. Raja Fir’aun ketika diberitahu oleh Aisah, isterinya, tentang bayi laki-laki
yang ditemui di dalam peti yang
terapung di atas permukaan sungai
Nil, segera memerintahkan
membunuh bayi itu seraya berkata
kepada isterinya: “Aku khuatir bahwa inilah bayi yang diramalkan, yang
akan menjadi musuh dan penyebab
kesedihan kami dan akan
membinasakan kerajaan kami y besar
ini.” Akan tetapi isteri Fir’aun yang sudah terlanjur menaruh simpati dan
sayang terhadap bayi yang lucu dan
manis itu, berkata kepada suaminya:
“Janganlah bayi yang tidak berdosa ini dibunuh. Aku sayang kepadanya
dan lebih baik kami ambil dia sebagai
anak, kalau-kalau kelak ia akan
berguna dan bermanfaat bagi kami.
Hatiku sgt tertarik kepadanya dan ia
akan menjadi kesayanganku dan kesayangmu”. Demikianlah jika Allah Yang Maha Kuasa menghendaki
sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi
terlaksananya takdir itu. Dan
selamatlah nyawa putera Yukabad
yang telah ditakdirkan oleh Allah
untuk menjadi rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya
kepada hamba-hamba-Nya yang
sudah sesat. Nama Musa yang telah diberikan
kepada bayi itu oleh keluarga Fir’aun, bererti air dan pohon {Mu=air , Sa=pohon} sesuai dengan tempat
ditemukannya peti bayi itu.
Didatangkanlah kemudian ke istana
beberapa inang untuk menjadi ibu
susuan Musa. Akan tetapi setiap inang
yang mencuba dan memberi air susunya ditolak oleh bayi yang
enggan menyedut dari setiap tetk
yang diletakkan ke bibirnya. Dalam
keadaan isteri Fir’aun lagi bingung memikirkan bayi pungutnya yang
enggan menetek dari sekian banyak
inang yang didatangkan ke istana,
datanglah kakak Musa menawarkan
seorang inang lain yang mungkin
diterima oleh bayi itu. Atas pertanyaan keluarga Fir’aun, kalau-kalau ia mengenal keluarga
bayi itu, berkatalah kakak Musa: “Aku tidak mengenal siapakah keluarga
dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin
menunjukkan satu keluarga yang
baik dan selalu rajin mengasuh anak,
kalau-kalau bayi itu dpt menerima air susu ibu keluarga itu”. Anjuran kakak Musa diterima oleh
isteri Fir’aun dan seketika itu jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai
inang bayaran. Maka begitu bibir sang
bayi menyentuh tetek ibunya,
disedutlah air susu ibu kandungnya itu dengan sgt lahapnya. Kemudian
diserahkan Musa kepada Yukabad
ibunya, untuk diasuh selama masa
menetek dengan imbalan upah yang
besar. Maka dengan demikian
terlaksanalah janji Allah kepada Yukabad bahwa ia akan menerima
kembali puteranya itu. Setelah selesai masa meneteknya,
dikembalikan Musa oleh ibunya ke
istana, di mana ia di asuh, dibesar dan
dididik sebagaimana anak-anak raja
yang lain. Ia mengenderai kenderaan
Fir’aun dan berpakaian sesuai dengan cara-cara Fir’aun berpakaian sehingga ia dikenal orang sebagai Musa bin
Fir’aun.

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Powered By Blogger
Powered By Blogger

berita populer

Blogg nuwar

¤¤¤¤¤Aku hanyalah orang biasa yang selalu ingin berbagi pengalaman untuk semua orang¤¤¤¤¤
"selamat datang di Blogg yang sederhana"
Powered By Blogger